Keisengan di satu lintasan waktu

Keisengan di satu lintasan waktu

Malam ini (18/01/2012), setelah otak panas dengan semua pilihan-pilihan yang ada (cieilee) dan dipaksa memutuskan hanya dalam waktu semalam, akhirnya berefek pada Tractus Digestifus (maklum nilai anatomi A, jadi sok ilmiah bahasanya) dengan segala kroni-kroninya pada demo ke Sistem Saraf Pusat dan memerintahkan untuk segera memberikan asupan makanan ke lambung. Setelah kegiatan rutin mikir-mikir menu apa malam ini (setiap malam bingung mau makan apaan) #nasib, akhinya malam ini jatuh pilihan kepada “sate madura di JL. Mahakam yang sedepanan ama kantor camat gading cempaka, kota bengkulu, Prov. Bengkulu, Indonesia, Planet BUMI (lengkap amat boi, mau ngirim surat???).

Singkat cerita (emang dari tadi singkat kok), nyampelah ke warung sate yang beralamat Bla…bla…bla…. (baca diatas). Si abang tukang sate nanya “mas, mau pesen sate apa??? Ayam atau Kambing???” setelah mikir dengan keras akhirnya mulut pun berbicara, “pesen sate yang gak ada disini mas, ada kan???”…. si mas-mas tukang sate sok mikir juga lama banget dan akhirnya tersenyum kebingungan dan bertanya balik, “emang apa yang gak ada disini mas”, nah lho, gw kan pembeli masak ditanya balik???. Setelah puas melihat kebingungan mereka akhirnya saya mesan sate ayam GPL (gak pake lama). Dan ternyata cepat amat…. belum juga 60 detik duduk, ehh… udah selesai, ekspres amat kayak kereta listrik milik PT. KAI yang akhirnya sukses membuat jera para penumpang untuk naik keatap kereta dengan Bola-Bola betonnya setelah sistem semprot dan pemukul nyamuknya. (kok jadi bahas ini sih….???)

Setelah meminta uang sejumlah Rp 12rb rupiah sebagai tebusan, saya dipersilahkan membawa sebungkus sate madura untuk dimakan dirumah (ehh, bukan rumah sih…. kamar. Tapi bukan kamar dirumah, dan bukan kamar kost, pokoknya kamarlah, tempat selonjoran, kok jadi ribet sendiri). Kata si abangnya uang recehan yang saya kasih tadi lebih seribu, padahal gw itung udah pas, kan biasa ngitung uang. Tapi ya udahlah si abangnya maksa, gw terima aja, mungkin sebenarnya dia gak sudi nerima uang dari gw yang udah THEKILL and THECUMMEL”… hehe. <<<<END>>>>

Musibah atau Anugrah ???

Musibah atau Anugrah

Frend, pernah gak sih mikir dengan mendalam setiap yang kita lakukan, trus mikir apa yang kita sudah dapatkan. Udah pernah menganalisanya gak??? Itu musibah, atau anugrah sih bagi kita. Misalnya, bagi sebagian orang mendapatkan sebuah jabatan itu adalah anugrah dan patut disyukuri.

Tak jarang orang melakukan “selamatan” yang notabenenya ungkapan rasa syukur dari si pelaku. Namun, akhirnya dengan jabatan tersebut dia berlaku sewenang-wenang, menyalahgunakan jabatan untuk kepentingannya sendiri, atau sekelompok orang dan mendzolimi banyak orang lainnya.

Pada sisi lain, ada juga orang yang menangis dengan tersedu ketika mendapatkan posisi yang penting dan strategis. Di paruh malam, dan setiap waktu shalat dia menangis mengadukan nasibnya kepada Sang Pemilik Semesta, kemudian bertanya “apakah ini anugrahMu atau malah dengan hal ini Engkau mau menguji aku atau malah mau Menistakan ku Ya Rabb???”. Kenapa hal itu terjadi, tak lain dan tak bukan karena, dia khawatir tidak sanggup melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, mengkhianati kepercayaan orang yang memilihnya atau bahkan dia takut terjerumus dengan semua “pesta pora” keinginan ingin dianggap lebih tinggi atau lebih penting, atau bahkan dengan jabatan tersebut akan menggadaikan jati dirinya, kejujurannya, sifat tawadhunya dan sifat-sifat baik lainnya.

Sementara ekspektasi orang terhadapnya begitu besar bahkan sangat besar. Padahal orang hanya melihat apa yang tampak saja, supervisial, mungkin kalau Sang Maha Pencipta membuka aibnya dan banyak kekurangan dirinya, mungkin orang akan pergi menjauh dengan memalingkan muka tanda murka. Disaat orang-orang berburu tempat yang basah, dia hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepada, tanda heran, kenapa orang-orang pada seperti ini? Kenapa orang-orang memperebutkan hal-hal yang tak pantas diperebutkan? Bahkan tak jarang memberikan “DP” terlebih dahulu, atau membuat “deal-deal” sebelumnya.

Tapi dengan santun dia berkata “sungguh aku tidak menginginkannya, jikalau pun tidak ada jalan lain dan terpaksa melakukannya itu demi memberikan kebaikan kepada orang lain yang itu akan menghantarkan pada keRidhaan Rabbnya. Dan menjalankan tugas yang diberikan semata, dan meminta agar senantiasa diingatkan agar tak melakukan kesalahan yang bisa membuat orang lain merasa dirugikan”. Baca tulisan ini lebih lanjut