“Theghilozz”

Theghilozz….

Belakangan ini, saya memiliki aktifitas baru, karena ada teman yang mengajak saya Nge-Band (jangan di tambahin huruf ci yak). APA??? Ngeband? Emang megang apa kak, tanya seorang adik tingkat di unsri yang sampe detik ini belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi kayaknya sudah begitu akrab. Dengan renyah saja saya menjawab, megang microphone dek…. (bukan Vocalis). Karena ngerasa gak pantes aja, suara cempreng bin fals gini kok berani-beraninya ikutan ngeband. Ditambah lagi, tak ada kemampuan lain selain megang mic tersebut, ngerhitem gak pas, ngemelodi gak tau, ngebass apalagi, ngedrum pun (tetep) gak bisa. Jadi kelihatan banget kan sebenarnya saya Cuma diajak untuk melengkapin saja, karena standar Band di Republik Indonesia Raya ini sepertinya harus memiliki personil 5 orang. Mungkin alasan lain teman ini ngajak adalah merasa gak enakan dan kasihan melihat tampang saya yang begitu memelas dan agak cool bin lugu, jadi dia merasa iba. Padahal mereka telah memiliki skill bermain musik dan olah vocal yang udah sangat baik untuk ukuran RT/RW bahkan tingkat kecamatan.

Ohh ya jadi lupa, band ini namanya “Theghilozz” (kemarin Konfirm emang blm ada perubahan). ntah sejak kapan band ini lahir, saya kurang tau pastinya tapi sebelum saya menginjakkan kaki di bumi RSJ ini (awal th 2010), Band ini sudah terbentuk. Namun dikarenakan personil dan alat band yang juga pada rusak akhirnya vakum lagi sampe hampir akhir tahun 2011 kemarin. Adalah Direktur baru yang emang hobi menyanyi dan bakat musiknya tersentil dan kemudian menggerakkan kembali semangat anak-anak “theghilozz” untuk menemukan kembali bakat nge-bandnya. Dan bangkit dari mati surinya. Alat-alat band yang masih laik pakai dipertahankan di tambah dengan pembelian alat band baru.  Dan petualangan baru pun dimulai.

Kalau ada kode “Lae, kami latihan” atau “Kami di studiolae”…. maka saya buru-buru ke studio musik yang emang terletak sangat dekat dari tempat saya berteduh, dan mulailah kami menyanyi dengan Feel Musik kami masing2. Ohh iya, lupa juga memperkenalkan personilnya. Baik saya akan kenalkan satu persatu :

  1. Alan Tupang sebagai Aransement Melodinya
  2. Ronalmen S sebagai Bassisnya
  3. Tinton M sebagai Tukang Gebuk Drumnya
  4. Diari K sebagai Rhitemisnya
  5. R. Bagus Sebagai Kadang-kadang melodi kadang-kadang Rhitem (karena manusia super sibuk, jadi harus bikin jadwal dulu dengannya sebelum latihan, kalau enggak bakalan gak bisa datang)
  6. Gh*z@li sebagai Tukang Megang Microphonenya.

Sebenarnya ni belum resmi jugak, karena emang belum ada peresmiannya (motong2, makan2, or bakar2 apalah gitu), tapi targetnya emang buat nampil kalau lagi ada acara-acara mewakili instansi. Bisa jugak sih untuk mengisi acara-acara pernikahan anda, so… bagi yang mau mesan jasa “theghilozz” silahkan hubungi admin blog ini. Di jamin acara anda akan bubar begitu kami mulai memainkan musik karena pasti tidak nyaman di telinga. Hehe…. gak kok, becanda. Anda gak bakal nyesel deh, GARANSI Uang Kembali (50%) jika anda Tidak Puas…. haha. <<<end>>>

Antara “Ghoz” dan “Zali” Part II

Masuk zaman sma, palinggilan kelik sudah jarang di dengar, di masa2 ini, panggilannya berubah menjadi “ghozali”. Emang masa sma itu masa yang paling berkesan dan berbunga-bunga, sangkin berkesannya tak ada satupun yang ingat, karena tiap momentnya begitu berkesan. Haha, tapi ada denk, kisah yang menggemparkan satu sekolah, bahkan kelas lain pun pada tau kejadian ini (lebai). Waktu itu ghozali diangkat menjadi ketua kelas I-2, dan sampai ke kelas II-2 masih menjabat sebagai ketua kelas, sebagai ketua kelas yang baik, harus menjaga “wibawa”nya kepada siswa yang lainnya. Tubuhnya mungkin paling ramping diantara teman-temannya yang lain yang sebenarnya gak pantes lagi jadi anak sma (pantesnya jadi tukang pukul, sumpah gede banget). Tapi karena wibawanya dia tetap dipercaya oleh teman-temannya dan nurut banget dengan apa yang dia arahkan kepada mereka. Ketua kelas ini memiliki sekretaris yang begitu amat sangat cerewetnya sehingga bukan berfungsi sebagai partner dalam menjalankan tugas-tugas kelas, malah jadi seperti tom n jerry yang sering banget adu mulut, dan itu mengundang perhatian rekan-rekan yang lain dan menjuluki mereka sebagai pasangan “GOMEL” alias Ghozali – Melda (nama sang sekretaris). Walau cerewet sebenarnya anaknya baik, Cuma ya itu gak tahan aja kalau udah dengar kicauannya.

Si ketua kelas yang berwibawa ini pun sangkin wibawanya pernah suatu kejadian lucu terjadi, karena waktu itu celana smanya udah kekecilan, ketua kelas yang sengaja duduk paling belakang ini, membuka sebagian (hampir seluruh sih), kacing pengait celana dan retsletingnya. Karena yang duduk dibelakang cowok semua jadi aman. Hehe, tapi naasnya waktu itu ada guru yang menyuruh kedepan kelas, dengan tergopoh-gopoh dia segera menarik retsleting dan mengaitkan kancing celananya, ternyata itu menarik perhatian sebagian teman-teman yang duduk dibelakang dan telah mengetahui “kebiasaannya” ini. Haha, emang gokil nih bocah. Sampe sekarang kalau diingat-ingat kejadian itu sungguh bikin tertawa.

Masuk ke dunia kampus, anak manja ini memilih untuk merantau ke sebuah negeri yang tak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan menurut rumornya daerah yang paling sering masuk busser, karena banyak sekali kasus kriminalnya. Sore hari Waktu pengumuman SPMB, si ghozali mengecheck nomor ujian dan mensearchingnya diantara orang-orang yang lulus. Ternyata ada, wah… begitu bahagianya dia memperoleh hasil tersebut, setelah dicek ternyata yang lulus adalah kode jurusan pilihan kedua yakni kesehatan masyarakat – Universitas Sriwijaya. Padahal pengennya sih pilihan pertama yakni FK Universitas Riau. Tapi walau begitu sujud syukurpun tak dilupakannya. Dari anak yang manja, ghozali yang memutuskan untuk merantau ini menjadi anak yang bermetamorphosis menjadi sosok yang begitu mandiri (Makan, mandi sendiri). Sempat ada keraguan dari orang tuanya apakah dia bisa bertahan, karena sebelumnya anak rumahan banget dan juga agak penakut. Nah, pada awalnya panggilan ghozali masih populer, tapi setelah itu, ntah karena keengganan, atau terlalu panjang ada teman yang hanya memanggil dengan kata depannya saja “ghozz”, bahkan ada yang memplesetkan menjadi “ghost” bahkan “ghozilla”, ampun bangetkan , wajah se imut ini disamakan seperti “hantu” atau makhluk menyeramkan hasil mutasi radiasi nuklir. Tapi gak apalah, yang penting hatinya kan baik. Hehe. Hmm, kalau diingat-ingat hal yang paling berkesan ialah dulu bersama seorang teman yang berasal dari bangka, berdua mereka udah sejoli banget, wanda namanya…. pertama bertemu di Bank BNI kampus Unsri Indralaya, ni anak Cool dan berkharisma banget, ternyata dia juga anak bungsu yang merantau, jadi seperti ada kontak batin jadilah kami bersahabat, kebetulan satu kampus juga. Bersama mereka sering melakukan konspirasi-konspirasi untuk menyesatkan mahasiswa-mahasiswa kejalan yang benar. Yang paling heboh adalah mereka berhasil membuat seorang mahasiswi yang sangat angker sifatnya, memakai “jilbab” padahal si mahasiswi orang yang paling “anti” dengan Jilbab. Mereka menyamar sebagai Nur Huda, mengirimkan sms-sms berisi ajakan untuk mengenakan jilbab sebagai identitas seorang muslimah, dan ternyata berhasil, si mahasiswi sih sempat curiga pada mereka, tapi penyamaran akhirnya terbongkar, tapi si mahasiswi sudah menerima dengan baik, malah bersyukur sudah di sesatkan ke jalan kebaikan. Hehe. Banyak kekonyolan2 lain yang mereka lakukan bersama, diantaranya membicarakan kisah-kisah masa2 sma dulu, dimana masih malu-malu dengan yang namanya cinta. Pernah juga kelakuan aneh bin ajaib yang masih ingat sampe sekarang, kalau ada “akhwat” (sebutan untuk anak perempuan yang make jilbab selebar gorden) atau yang bikin sakit lainnya maka mereka memakai kode arah jam. Misalnya arah jam 3, berarti sang target beradi disebelah kanan mereka, kalau jam 6 berarti di belakang, jam 9 berarti sebelah kiri dan kalau arah jam 12 berati tepat didepan mereka dan begitu seterusnya. Kacau beliau lah pokoknya, hehe, itu mungkin yang menyebabkan sampe sekarang mereka belum menikah, karena banyak yang dilihat, jadi susah untuk menentukan. Tapi sekarang mereka terpisah jarak dan waktu (untung belum beda alam).

Dan sekarang udah kerja, panggilan-pangilan itu masih bervariasi, ada yang manggilin “ghuzz” dengan ntah apa sebabnya. Yang paling parah ada rekan kerja yang manggil “gali”, ntah apa juga dasarnya, tapi mungkin mereka teringat dengan judul lagu “galih dan ratna” atau juga saat melihatnya seperti melihat tukang “gali” kuburan. Hihihi, horor.

Tapi ada yang gak berubah dari si ghozz ini, ialah dari SD ampe udah kerja gini masih aja di suruh orang baca doa waktu upacara. Ntah apa mereka begitu percayanya mereka, bahwa kalau dirinya yang doa bakal dikabulkan (padahal blm tentu kan???). Mungkin karena tampangnya rada-rada mirip ustadz kali yak, jadi kalau liat tampangnya bawaannya ingat akhirat aja. Haha, begitulah setiap orang punya sisi lain yang unik  untuk diceritakan. Ya udahlah, ini bukan menceritakan aib, tapi sekedar flash back aja, bagaimana proses methamorphosis si Ghoz dan zali (udah kayak kupu-kupu aja). Semoga bisa buat tersenyum dan menjadi inspirasi bagi anda. <<<end>>>