ada yang salah….

Ada yang salah, pasti ada….

Kecurigaan dan terjadinya krisis kerpercayaan dalam sebuah organisasi, baik pemerintahan maupun swasta, dan apapun bentuk organisasinya menyebabkan kondisi kerja tidak sehat, dan membuat orang-orang yang berinteraksi di dalamnya berada dalam kondisi kerja yang tidak efektif dan produktif. Tentu saja, jika “kesakitan” ini terus dibiarkan maka akan menyebabkan terhambatnya pencapaian-pencapaian organisasi. Bahkan tidak mustahil visi organisasi menjadi “oase” ditengah gurun yang sebenarnya fatamorgana.

Khusus di organisasi pemerintahan, sangat sulit ditemukan kondisi kerja yang benar-benar solid, semua individu terjebak dalam azas kepentingan yang bersifat material dan saling tarik menarik kepentingan, bukan  berusaha mencapai keberhasilan bersama. Saya kaget mendengar jika ada yang mengatakan “lebih baik sama-sama rugi sekalian deh”. Aneh, ada yang mau rugi barengan, padahal dalam mencari solusi yang harus dikedepankan adalah “win win solution” atau paling tidak “win not lose Solution” yang kalau diterjemahin dalam bahasa kita adalah sama-sama menang/untung atau minimal gak ada yang dirugikan. Maka, yang mau sama-sama rugi adalah keputusan emosional yang tidak rasional. Atau paling banter ya ruginya diminalisir.

Coba bayangin, tubuh kita yang notabenenya terdiri dari organisasi yang baik mulai dari sel, jaringan, organ, sampai sistem organ semuanya bersinergi untuk menopang kehidupan. Jika, si “jantung” ngambek karena kepentingannya tidak diakomodir, karena merasa paling penting maka si jantung memutuskan untuk melakukan aksi mogok selama 1 jam. Enak aja, gue yang capek-capek memompakan darah dan memberikan makanan kepada elu-elu pade, malah dapat bagian yang paling kecil, ntu si ginjal kok malah kebagian yang paling gede??? Lalu si otak menimpali, ehh jantung gak usah sok deh, gue yang diatas sini aja dapatnya juga dikit, diem2 aja. jangan macem-macem deh, gak ada gue lu pade gak bergerak tau…. ehh…ehh…ehh, lu otak…. kalau gue gak mensuplai oksigen 5 menit aja ke kamu udah mati lu timpal si paru-paru. Gak kebayang kan gimana manusianya jika terjadi hal-hal diatas???

So, balik lagi untuk menuju keorganisasi sehat yang sebenarnya ingin mencapai tujuan bersama, maka diperlukan sinergitas dari pembagian deskripsi (tupoksi) kerja masing-masing. Gak bisa lagi, untuk menciptakan organisasi yang sehat terjadi saling salah menyalahkan, saling “ngambek” karena kepentingannya tidak diakomodir, semua harus pada porsinya masing-masing. Egoisme bagian harus dimimalkan, tidak ada yang lebih penting satu dengan yang lainnya. Tapi mungkin ada yang lebih berat tugasnya perlu diberi perhatian lebih maka hal itu wajar-wajar saja. Tetapi tetap tidak mengabaikan produktifitas. Terjadinya keterlambatan dalam mengambil keputusan dan terjadinya ketidakefektifan kinerja dari sebuah organisasi adalah sebuah kerugian terbesar. So, bagi kita yang berinteraksi dalam organisasi maka kita perlu memahami hal-hal tersebut sehingga produk yang kita hasilkan menjadi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Karena kalau kita masih berkutat pada masalah-masalah remeh temeh, maka kita tidak akan menciptakan sesuatu yang besar dan tidak akan bisa bersaing dengan para kompetitor.

Biarlah Cinta Menemukan Jalannya

Biarkanlah Cinta Menemukan Jalannya Sendiri…..

Sob, pernah gak lu jatuh cinta? Aku pernah…. sekali, mungkin dua, tiga, empat bahkan sudah tak terhitung lagi…. capek sob, jatuh cinta (mulai curcol), jatuh dari tempat tidur aja sakit, apalagi jatuh cinta sob. Bayangin deh, kalau jatuh dari tempat tidur paling jidat yang jendol, atau badan encok-encok dikit lah, tapi kalau jatuh cinta sob, sakitnya dari hati, ampe ke jantung, lalu ke pembuluh arteri dan balik lagi lewat pembuluh vena, lalu ke ubun-ubun dan sampe ke sistem saraf pusat (ini apa???). dan itu lebih nyeri kata alm. Om Meggi Z dari pada sakit gigi, padahal lu tau sendiri kan sob, sakit gigi itu horor banget, lebih horor dari pada film sandel bodongnya tante suzanna. Dan yang aku bingung kenapa dokter gigi itu beda ama dokter umum, kenapa mereka gak spesialis dokter gigi, sama  seperti spesialis mata, THT, dll. Mungkin karena kalau disingkat membuat orang jadi rancu dan malas untuk berobat, masak jadi SpG (Spesialis Gigi), kan nanti dikira SPG (Sales Promotion Girl) yang bedaknya setebal kulit badak, ngomongnya udah kayak tape rekorder yang persis sama pada setiap calon pelanggannya tapi gajinya gak lebih dari UMR.

Balik lagi ke jatuh cinta, trus kenapa orang-orang udah tau betapa sakitnya jatuh cinta, malah mengejar-ngejar cinta??? Lebih baik kan mengejar bus mahasiswa di terminal bus kampus Unsri Indralaya, terus cari bangku kosong dan sebelahnya sengaja di tag buat pancingan atau cari peruntungan kali-kali ada cewek cakep yang kebingungan mencari tempat duduk dan kita pura-pura jadi pahlawan dan menawarkan bangku kosong itu kepadanya. Dan itu kesan pertama yang baik sob, selanjutnya terserah anda…. ini kan trik sob, gak perlu ngejar-ngejarlah. Yang lu butuhkan itu moment yang tepat.

Trus, gimana donk? Kita-kita masih pada jomblo ciiin…. ok. gini, kata pak us…us…. (ustadz) jodoh, rezeki dan maut itu udah ditentuin ama Yang Maha Kuasa, jadi jodoh kamu juga gak bakal ketuker kok (tapi diambil orang bisa).  Jadi biarinlah dia menemukanmu, itu ibarat kita jalan kemudian nemu persimpangan, mungkin disuatu persimpangan yang gak kita sangka-sangka kita bakal ketemu ama orang yang emang jadi jodoh kita, nah…. banyak-banyakin deh berdoa, biar kamu bersimpangan ama si doi, kalau enggak bersimpangan berarti emang bukan jodoh dan gak perlu disesali. Trus gak perlu usaha??? Ya perlu donk, usahakan lu dapetin hati orang tuanya, kata pepatah, dekati orang tuanya pasti gampang mendekati anaknya (pepatah dari mana ini?).

Tapi sob, bener deh…. lu harus yakin, bahwa ada sesosok makhluk yang bakal di jodohin ama lu, mungkin enggak ada di dunia, bisa jadi di akhirat ama para bidadari. Jadi jangan putus asa dan gampang galau dan guling-guling di lumpur lapindo kalau cinta lu di tolak, atau ditinggal nikah inceranmu. Masih banyak kok kucing-kucing yang masih single.

SOMBOYAN  “LEBIH BAIK TIDAK DICINTAI, DARI PADA DICINTAI AMA BANCI”

Kepolosan

Kepolosan dari seorang bocah sering membuat hati menjadi terenyuh. Hati yang terbakar emosi menjadi padam. Ya, kepolosan, ketulusan seorang bocah…. mampu menjadi sihir yang ampuh untuk menenangkan jiwa. Beruntunglah mereka yang telah memiliki anak-anak sebagai penyejuk hari, pelipur lara. Bahkan tak jarang, kita berharap terus bisa menjadi bocah, tanpa beban, jujur apa adanya, bermain sesukanya, berantam sejenak kemudian baikan dan tertawa bersama lagi. Ahh, ingin rasanya segera memiliki, andai bisa membeli.

Dulu, kita seperti apa ya waktu bocah? Merepotkan? Menyenangkan? Menggemaskan?…. memory yang tersisa adalah, waktu ketika ibu mengajak ke pasar untuk membeli keperluan pokok, aku malah sibuk menangis minta dibelikan mainan mobil-mobilan tanpa pernah berfikir, apakah saat itu ibuku memiliki uang yang cukup? Namun karena ingin menghentikan tangisan ku, mungkin dia menghemat belanjanya untuk memberikan banyak senyuman kepada ku. Hmmm, aku baru mengerti sekarang, belum terlambat untuk memberikan senyuman balasan dibibir mereka. Mungkin tidak semuanya, tidak pula sebagian, tapi hanya titik, beberapa titik.

Kepolosan itu tidak bisa direkayasa. Dia berasal dari kejernihan hati dan terpancar lewat rona wajah dan gerak tubuh. Tidak semua anak memilikinya. Hanya anak-anak yang memang di didik dengan baik dengan pola asuh yang benar yang bisa memilikinya. Pola asuh yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Sayangnya sebagian besar anak-anak Indonesia sudah terkontaminasi. Sehingga kepolosannya tidak tulus. Bahkan, tak jarang berkeliaran dijalananan untuk meminta-minta, miris melihatnya.

Mungkin dikalangan bocah, sangat mudah kita temukan kepolosan. Namun, pernahkan anda melihat itu di sebaya anda??? Remaja yang beranjak dewasa. Innocent, aku pernah melihatnya di suatu persilangan waktu. Ketulusannya begitu meneduhkan. Pandangannya begitu meluluhkan. Kepolosan dimasa-masa kita adalah akhlak yang baik. Melakukan kebaikan, tanpa mengharap apapun. Kecuali balasan dari Sang Khalik. Menjaga dirinya dari orang-orang yang tidak berhak. Berinteraksi dan bergaul seadanya. Mungkin bagi orang lain, ini bentuk kekakuan, kolot, cupu atau apalah bahasa menyudutkan lainnya. Tapi justru itu yang membuatnya menarik. Kepolosan adalah sesuatu yang membuat saya, anda, kita tertarik.

Dimana Balon Hijaunya???

Suatu hari di suatu sore, aku yang baru aja pulang dari gramedia di sebuah mall di kota bengkulu membeli 2 buah buku, lalu karena ingin cepat-sepat membacanya, lalu langsung saja ku lari kepantai, dan menari-nari bersama ombak dan angin (ini apa ghozz??). yap, untuk mendapatkan MOod baca yang berbeda sengaja ambil latar dipinggir pantai, sambil melihat beberapa pasangan sedang asyik bercengkrama (dan aku langsung galau, “kenapa aku masih sendiri???). lalu, tak sobek-sobek aja tuh sampul plastik pembungkus buku dan mulai menikmati membacanya sambil kadang tertawa horor. padahal itu buku gak ada seram-seramnya. tiba-tiba bacaanpun menjadi buyar setelah 3 orang bocah ingusan yang sepertinya kehilangan induknya datang menyamperin aku, dan itu cukup membuat kaget. lalu mereka mulai memperdengarkan nada-nada sumbang ala bocah, cuma yang anehnya lagu yang mereka bawakan tidak seperti waktu aku, mungkin kita waktu masih zaman jadul dulu. klau zaman kita masih bocah, lagu-lagu kita adalah Balonku ada lima, potong bebek angsa, naik level dikit ya abang tukang baksonya melisa, atau liburan telah tiba yang dibawakan oleh tasya atau diobok-obonya joshua. dan banyak sekali artis cilik dengan lirik khas masa anak-anaknya. nah, bocah yang ganggu saat aku baca tadi melantunkan lirik yang tidak sepantasnya mereka nyanyikan, bahkan ada lyrik2 yang berbau mesum. aneh memang. lalu, aku memperhatikan mereka, kasihan, anak yang polos-polos ini harus teracuni oleh dunia yang seharusnya belum pantas mereka rasakan, dan yang parahnya mereka jadi pengamen pantaian (karena di pantai ngamennya). trus, ibu bapaknya mana??? kok anak dibiarin seperti ini? #tambahmiris

aku meyuruh mereka berhenti dan mengganti lagu yang lebih “kanak-kanak”, dan aku suruh nyanyi “balonku ada lima”. lalu mereka mulai menyanyikannya….

“Balonku ada lima”….”Rupa2 warnanya”….”Merah, Kuning, Kelabu, Merah Muda, dan Biru”….”Meletus balon hijau… Dor”….. lalu aku memberhentikan nyanyian mereka pada lirik itu. lalu kau bertanya, emang tadi warnanya apa aja?? lalu mereka mengeja satu persatu warnanya, yaitu Merah, Kuning, Kelabu, Merah Muda, dan Biru. Oke, trus kenapa yang pecah balon hijau coba??? dari mana asalnya ada balon hijau?? mereka pun melongo dengan ekspersi tidak percaya, lalu kuulangi lagi lirik tersebut, dan akhinya meraka pun tambah bingung. setelah perdebatan panjang, lalu aku bilang yang pecah balon biru aja yah…. lalu mereka pun menyanyikan …. “meletus balon biru, dooor”….”Hatiku sangat kacau”….”Balonku tinggal empat”….”Ku pegang erat-erat”….end…. lalu uang seribu bulukan pun keluar dari kantong dan aku serahkan kepada mereka, dan mereka sangat girang sekali, udah dapat uang dapat ilmu baru dari aku…. muahaha. dan sayup-sayup terdengar mereka masih menyanyikan lagu tersebut, dan itu lebih baik dari pada lirik lagu yang berbau mesum tadi. <<<Gembira>>>

Os, buat teman-teman yang super yang punya anak, adik yang masih balita, atau masih ingusan, jangan dibiasain deh dengar lagu-lagu yang emang belum pantas mereka dengar dan nyanyikan, itu akan mengganggu tumbuh kembang mereka secara psikist/kejiwaan (Hipotesissesat). tapi emang anehnya ada pula orang tua yang senang anaknya bisa goyang patah-patah, atau goyang ngebor, goyang kayang dan jumpalitan, dance supple, modern dance lainnya sambil nyanyiin lagu “KU Hamil Duluan, udah tiga bulan…Bla…bla…bla atau Cinta Cenat-Cenut atau Manusia Paling seksi sambil Goyang ala Trio Kucing. Parah banget kan, ini IRONI saudara-saudara bahkan IRONI diatas IRONI. kecilnya aja udah tau hamil duluan gimana gedenya ya??? mungkin langsung aborsi. mau dimana genarasi muda bangsa ini???(udah kayak orang bener aja lu ghozz!). yah, mudah2an anak-anak saya dan kita tidak seperti itu yah…. (cari emaknya dulu ghozz, udah ngomongin anak aja) #belalu #ManjatTowerAirRsj.

<<<End>>>

“Single” …. Nikah yang tertunda

Assalamualaikum…

Kapan lu nikah sih??? Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang ditelingku, baik dari teman semasa SD, SMP, SMA, Ampe Teman Kuliah, juga dari teman2 kantor…. pertanyaan ini selalu bikin galau, apalagi waktu kemarin liat “Kek Daus” yang terkenal waktu acara Soulmate bersama Rina “Pesek”, dan sempat jadi satpam di Sitkom “Suami-Suami Takut Istri” disebuah infotaiment menikahi seorang wanita muda yang pantes jadi anaknya, dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putri cantik. Rasanya seperti tercucuk sembilu tepat di jantung. Nah aku??? Gimana aku? Yang masih muda, handsome (some = beberapa, Hand = tangan) dan cool(cas), kerjaan udah tetap, tunggangan ada, warisan banyak (utangnya), coba pikir, apalagi yang kurang coba??? Masak “sebijik” wanita yang bisa dijadikan “istri” aja gak dapat??? Gak logis banget…. tapi aku mikir, itulah mengapa ada pepatah “Cinta itu Buta”…. dan hikmah “Khilaf” diciptakan Allah SWT kepada manusia.

Padahal dulu masih jaya-jayanya kuliah, aku termasuk orang yang mengusung tema “nikah muda” dan “no pacaran nikah yes”. Bahkan ada teman yang sukses nikah muda (skrg udah punya 1 anak) akibat di “Komporin” oleh ku, dan banyak yang putus dari pacarnya setelah konsultasi ama aku. Beberapa teman seperjuangan kuliah pun sudah menemukan tambatan hatinya.

Sebenarnya, bukan karena gak laku sih, tapi ada beberapa sebab yang “mengada-ada” sebenarnya, tapi sukses membuat aku gak nikah-nikah sampe sekarang. Dan terombang ambing dalam ketidakpastian. Dan kalau ditinjau dari sisi agamanya udah gak bisa ngelesh lagi dah, mungkin taraf hukumnya udah wajib.

  1. Kakak Pertama belum nikah-nikah juga. Padahal udah “senior” banget umurnya. Bahkan udah 2 adiknya melangkahinya. Sebagai adik yang baik dan pengertian aku tidak ingin menyusul kelakuan abang-abangku yang melangkahi beliau. Kasihanlah, aku enak-enak menikah, dia masih menjomblo. Sekarang beliau sedang melanjutkan sekolah S2 Magister Pendidikan Agama Islam. Mudah-mudahan ada yang khilaf dikuliahan beliau yang mau menjadikan beliau menjadi makmumnya. Aamiin. Sebenarnya beliau gak jelek-jelek amat, tapi mungkin terlalu “Kuper” dan sangat Natural dan Alami. Mungkin udah tahap “terlalu” natural dan Alami, kulitnya alergi memakai kosmetik-kosmetik, dan kayaknya beliau gak kenal kata salon. Banyak juga yang datang mendekat, tapi emang kayaknya dia pengen Cuma suami seorang pangeran berkuda yang make sorban dan jenggot tipis turun dari langit yang menemukan sendal jepitnya yang ketinggalan dimushalla waktu tarawihan. Maaf ya kak, kalau baca tulisan ini, yang pasti yang mendukung sepenuhnya untuk perjuangannya mencari cinta sejati. Tapi DEATHLINEnya ampe abis lebaran tahun ini aja ya…. kwukwukwuk….
  2. Tabungan belum cukup dan Kreditan motor belum lunas. Ini adalah alasan paling absurd. Karena kemarin mutusin buat beli motor lebih dulu itu pun kredit-an jadinya, tabungan gak ngumpul-ngumpul, karena serengah gaji dipake buat bayar kredit dan sisanya buat makan. Maklum anak rantau. Mungkin teller di bank juga tersenyum bingung, ini orang tiap awal bulan nabung tapi kok saldonya gak nambah-nambah??? Tapi senyuman bingungnya itu aku tanggapin aja dengan senyuman ambigu khas aku.
  3. Masih bingung, mau tetap dibengkulu yang artinya nyari jodoh orang bengkulu dan sekitarnya, atau mau pindah kemedan or ketempat lainnya. Sehingga penentuan jodoh juga masih rancu. Ada yang bilang, ntar kan istri ngikut aja kemana pun kita pergi, but the fact, ada juga yang gak mau karena udah cinta banget ama tanah kelahirannya. Nah, sampe hati ini mantap mau menetap atau tidak, maka selama ini itu pula mungkin kata-kata nikah Cuma menjadi fatalmorgana.
  4. Inceran masih acak dan tak satupun memberikan signal. Sebenarnya yang diperlukan itu sosok istri yang kriterianya gak neko-neko kok, Cuma punya kepribadian aja, mobil pribadi, rumah pribadi, tabungan pribadi, kebun pribadi, dan pribadi lainnya. Haha. Gak lah, emang aku cowok apaan, yang penting itu gak banyak tingkah, smart, bisa diajak sharing, dan yang tak kalah penting adalah solehah. kalau gak bisa masak, ya beli diluar or catringan. Gak biasa nyuci, yang pake mesin cuci, gak bisa nyetrika, ngeloundry aja. Jadi kriteria yang seperti itu gak wajib.
  5. Nunggu bidadari turun dari kahyangan. Ini alasan paling impossible. Jadi gak usah dibahas.
  6. Biaya nikah dan Mas Kawinnya belum cukup. Alasan ini muncul akibat kekhawatiran yang menyebutkan biaya nikah jaman sekarang mahal, untuk anterannya aja nyampe puluhan juta, belum mas kawin seperangkat rumah dan prabotannya. Bingung mau nyari uangnya dari mana, mau ngerampok bank gak berbakat, mau korupsi ntar ditangkep KPK, mau Ngepet or miara tuyul ntar gak masuk syurga karena udah Syirik. So, harus gimana donk? Sementara mau nyari yang murah meriah kayaknya udah langka dan mungkin udah dimasukin di cagar alam yang perlu dilestarikan dan dikhawatirkan akan kepunahannya. Serba salah kan? jadi ingat dulu penah nantangin teman yang “tomboy” yang terkenal sangat anti nolak kalau ditantangin, tapi waktu aku ajak nikah hari itu juga dengan mas kawin 100.000 dia bilang “Kok aku murah amat???” padahal itukan Dpnya, ntar kalau udah nikah, semuanya juga bakal dikasih. Haha, tapi untunglah dia nolak, kalau enggak, gak tau deh jadinya… muahaha. Dan itu juga membuktikan sisi “kewanitaannya”.
  7. Asmara terlalu dingin, kesannya jaim gitu, seram sih tepatnya. Jadi banyak cewek-cewek yang takut duluan kala melihat tampangku. Padahal aslinya kan emang iya… hohoho.

 

Oke, begitulah teman-teman, biar aku fakir cinta tapi aku bukan pengemis cinta. Mudah-mudahan aja ada yang baca tulisan ini dan tergerak hatinya untuk merelakan waktu-waktunya untuk dibagikan bersama dengan diri ini. Hahaha…..