Pasien Psikiatri


Frend, Pa kabar??? Hehe…. masih sehat jiwa dan raga kah??? (knp sih tanya2), iya…. khawatir aja, lagian sekarang saya mau ngebicarain tentang pentingnya kesehatan terutama kesehatan jiwa, mumpung aye mangkal di RSJ dan kadang-kadang berinteraksi langsung dengan pasien.

Bekerja di RSJ merupakan hal yang “sesuatu” dalam perjalanan hidup saya, karena dengan bekerja disini saya bisa melihat secara “live” para pasien psikiatri yang mondar-mandir, cengar-cengir, tengok sana sini gak jelas, nyayi-nyanyi dan nyeloteh sendiri dan banyak kegiatan lainnya yang kadang mengundang untuk ketawa dan geleng-geleng kepala. Bahkan bersyukur bahwa saya masih memiliki kesadaran penuh. Beda dengan pasien di Rumah Sakit Umum yang pasiennya terbaring tak berdaya, bahkan tak jarang kondisinya menyedihkan dan mengundang simpatik.

Sob, apalah artinya jika secara fisik diri kita sehat dan bugar tapi jiwa kita gak sehat, orientasi gak jelas, dan gak punya impian. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan jiwa kita. (kok jadi kayak mau nulis skripsi sih goz? Bosan tau…. hehe)

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya kemarin, kalau bahasa inggrisnya yesterday, kalau bahasa jermannya ….. hmmmm…..hmmmm…. apa ya??? Gak tau deng! dulu waktumata pelajaran bahasa jerman di SMA nilainya kurang memuaskan! Saya sampat berinteraksi dengan pasien, kalau dilihat secara fisik, masih muda, berkulit putih, tampang lumayanlah point 10 (skala 100), yang pasti gak lebih ganteng, cute, dan imut, dari gue…. hehe. Hah (pede abis!), sangat disayangkan masih muda tapi udah mengalami ganguan jiwa, ini juga mesti kita waspadai, karena sakit jiwa bisa menyerang siapa saja, tua muda, miskin kaya, ganteng jelek (apalagi), cewek cowok, semuanya bisa terkena, dengan berbagai penyebab. Bisa diputusin pacar, gak laku-laku, gak punya gebetan, merasa jelek (untung aku merasa tampan), kuper, bisa juga masalah keluarga seperti merasa diasingkan, merasa paling jelek dikeluarga (untung gw terlahir manis), kurang kasih sayang. Bisa juga masalah kerjaan, misalnya merasa paling jelek di ruangan dan gak punya gebetan dan gak laku-laku (perasaan de javu dengan kata-kata ini) stress karena banyak atau malah kerjaan gak ada, dan banyak faktor lainnya seperti Ngilmu, gagal nyalon, gak diangkat jadi esselon padahal udah nyetor, ahh… banyaklah!!!

(Jadi apa sih inti pembicaraanmu ghoz?). waktu itu dia sedang “shalat”, waktu saya tanya katanya shalat dzuhur (kebetulan bener) walau sholatnya acak-acakan, yang membuat terenyuh (jiyah terenyuh, bahasa mana tuh???) adalah ketika selesai “shalat” dia sempatin untuk berdoa dengan menengadahkan kedua tangan sambil berkata “Ya Allah, tolong jadi kan aku orang yang jujur, dan jadikan aku orang yang bisa menundukkan hawa nafsu” (nah lho). Kok bisa ya, orang seperti sempat2nya minta hal-hal seperti itu, mungkin yang “waras” aja berjamaah untuk tidak jujur, dan selalu menuruti hawa nafsu.

Lalu dia bertanya lagi, “mas kalau orang gak shalat itu, seperti monyet ya???” saya jawab “tidak”, “trus apa mas??? Dia bertanya lagi”, “ya tetap manusia”, “jadi yang gak shalat itu kafir ya???”, “enggak juga”, “jadi apa mas???”, “Ya belum kafir”, lalu saya pun berlalu.

Dalam benak saya, wah…. lagi kondisi gini aja masih bisa ingat shalat, yang “waras” aja kadang lupa atau sengaja melupakan shalat. Ni orang kok masih ingat aja. Jadi teman-teman yang merasa “waras” jangan mau kalah dong ama orang “sakit”. Walau pun shalatnya acak-acakan setidaknya, memori tentang shalat itu masih ada dibenaknya sehingga dia masih berupaya melaksanakan. Padahal sebenarnya kalau dia tau, dia gak perlu shalat lagi, karena emang gak wajib. Sampai akalnya kembali normal. Dan yang buat “kesadaran” saya balik lagi adalah, bahwa mereka gak perlu mikir repot2 tentang dunia, dan diakhirat juga gak bakal mempertanggung jawabkan “kesakitannya” pada saat dia mulai sakit sampai dia sembuh. Beda dengan kita yang menyibukkan diri dengan kegiatan keduniawian, mengejar harta dan bahkan “lebih gila” lagi dari “pesakitan tadi”. Sikut kanan kiri, jilat atas bawah (jangan ngeres!), hasut sana sini dan banyak “kegilaan” lainnya.dan yang #parahnya adalah kita harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di akhirat kelak, dimana bukan mulut lagi yang berbicara, tapi seluruh anggota tubuh!!! So…. jadilah pasien psikiatri…. haha (kalau mau). Gw enggak!!!

Terakhir, tapi gak yang paling akhir…. kapan-kapan sempatkan diri anda untuk berkunjung ke RSJ untuk melihat para pasien psikiatri biar anda sadar bahwa anda waras, dan jangan sampe idup anda yang Cuma sekali ini menjadi seperti itu. Gak ada masalah yang terlalu berat di dunia ini, jadi santai aja jeck, dan selalu berfikir positif dalam setiap kesempatan. So, gak perlu khawatir, dan pasien psikiatri juga gak galak-galak amat, jadi gak perlu takut. Dan jika ada keluarga yang butuh bantuan masalah kejiwaan jangan segan-segan untuk memeriksakan dirinya. Gak perlu malu dan gengsi kok (karena masih banyak yang phobi, dengar namanya aja alergi), biasa aja, justru kalau gak mendapat pertolongan medis, mungkin kondisinya lebih parah, dan jangan juga dipasung (karena melanggar undang-undang). <<<<end>>>>

Iklan

Perihal theghozz
Aku adalah Penduduk Akhirat yang sedang melancong kedunia, sehingga waktuku tidak banyak. Setiap detiknya ada kesempatan emas yang sangat berharga, bagiku waktu yang telah berlalu sangat jauh walaupun seditik dan masa yang akan datang begitu dekat menghampiri....

5 Responses to Pasien Psikiatri

  1. yang abang ceritain itu masalahnya apa sampe jadi kayak gtu(smpe jadi gak”waras”)….??

  2. theghozz says:

    siapa kk pementornya??? suruh baca blog abang donk… hehe…. #promosi

  3. namanya kak Nur… sebenernya mau jannah suruh baca blog abang tapi cemana bilangnya hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: