Antara “Ghoz” dan Zali” Part 1


Antara “Ghozz” dan “Zali”

Dahulu kala, sekitar tahun 1986 lahirlah seorang bayi dan terdengar tangisan bayi tersebut yang sangat keras, sangkin kerasnya pohon-pohon bergoyang ditiup angin, ombak-ombak menghempas karang, dan gunung-gunung meletus mengeluarkan larva pijar. Bayi imut itu sungguh menggemaskan, dari bayi saja telah menampakkan kharismanya sebagai pria sejati. Haha.

Kemudia bayi itu diberikan nama yang juga luar biasa. Ntah berapa ekor kambing yang jadi korban sebagai penebus nama “Akhmad Ghozali” tersebut. Lalu sebagai panggilan kecilnya dipilihlah nama “zali” oleh kedua orang tuanya. Ternyata pada pertumbuhan dan perkembangannya anak ini menjadi begitu manja pada kedua orang tuanya, maklum waktu itu dia anak paling bungsu diantara ke 3 saudaranya. Segala kemauannya harus diturutin, suka merajuk jika keinginannya tidak terpenuhi. Jadi teringat, pernah suatu ketika sang ayah ingin pergi ke P. Brandan (rumah kakek dan nenek). Tapi karena gak diajak akhirnya bocah kecil itu menangis meraung-raung didepan rumah sebagai senjata saktinya. Dan akhirnya, diapun diajak pergi.

Memasuki SD, ada peristiwa yang tak pernah dilupakannya, waktu itu dia yang sedang duduk di kelas 1, kakak pertama kelas 6, abang pertama kelas 5, dan abang kedua di kelas 3 pergi bersekolah, kebetulan mereka satu sekolahan, ada juga seorang teman lagi bernama alm. Dedi antoni (anton). Pagi itu seperti biasa, mereka berangkat bersama. Kemudian disuatu persimpangan ada jembatan kecil, dan dihadapan mereka telah menggonggong “anjing” yang sangat galak. Emang sih tuh “anjing” sering banget menggonggong saat ada orang yang lewat, biasanya sih Cuma dalam pagar rumah seseorang. Tapi kali ini, anjing itu berada diluar dan tidak terikat, sehingga abang kedua dan alm. Anton telah berlari duluan menghindari si “anjing”. Yang naasnya, zali yang ketakutan pun mengingat2 jurus sakti menghindar dari anjing yakni “berjongkok”. Kabar2nya dengan berjongkok anjing akan mengira (emang dia less matematik) orang yang berjongkok tadi mengambil sebongkah batu buat melemparnya. Tapi ternyata rumus itu tak berhasil kali ini, dan Gubrakkk!!! Si anjing menerkam zali dengan ganasnya sampai terjerembab dijembatan itu. Beruntung sang empunya rumah yang mengetahui hal tersebut langsung memanggil anjingnya, dan membawanya masuk ke halaman rumahnya.

Zali yang terjerembab tadi, shock banget (nangis gak ya waktu itu??? Lupa). Dari sanalah cikal bakalnya dia agak Parno dengan yang namanya anjing. Kalau ngeliat anjing udah kayak serigala yang siap untuk mencabik-cabik mangsanya. Walau pada perkembangannya setelah mengetahui trik-trik lainnya seputar anjing, dan waktu ngekos zaman-zaman kuliah tepatnya di sekitaran gang lampung banyak banget anjing, jadi udah terbiasa dengan gongongannya. Malah tak jarang dia yang gak mau kalah balik menggonggong. haha.

Memasuki zaman smp / Mts, panggilan zali mulai memudar, karena ada teman sering manggil “lik” maka jadilah zali mendapat julukan “Kelik sang pelipur lara”. Haha, aneh juga emang…. nama kelik itu terinspirasi dari pelawak yang berasal dari Jogja kalau gak salah yang waktu itu cukup populer. Gak ada yang spesial sih waktu di Mts, tapi yang paling berkesan adalah dulu ada Preman sekolah, kalau gak salah namanya erwin, yang sering banget malakin anak-anak di sekolahan. Badannya sih emang waktu itu paling gede, bersama assistennya dia memalakin semua orang tak terkecuali, waktu itu emang anak kelas 1 dan 2 dipisah lokasi sekolahnya dengan kelas 3, padahal di kelas 3 itu ada abangnya yang kedua. Si kelik kelas 1 dan si preman kelas 2. Jadilah si “kelik” menjadi korban pemerasan. Mungkin sampe sekarang masih banyak juga oknum-oknum pelajar yang merasa jagoan dan mengintimidasi siswa yang cupu-cupu kayak si “kelik” ini. Yang menjadi lucu adalah nih preman aneh banget, karena dia menentukan tarif dari setiap korbannya. Kalau gak salah Rp 100,-/orang. Waktu itu si kelik sedang gak punya uang cepek (baca : 100). Yang ada di sakunya uang Gopek-an (baca : 500). Terjadilah dialog antara mereka “bang, gak ada uang cepek neh….” lalu dia menjawab, “ini ada kembaliannya”. Nah lho, keren kan, sepertinya dia jenis pemalak yang baik hati. Karena tidak mau menguras seluruh harta korbannya, mungkin dia masih punya “hati nurani”. Haha. Ntah bagaimana nasibnya tuh si pemalak, apakah jadi preman besar, atau jadi sampah masyarakat, atau menjadi orang baik-baik. Tapi kemarin pernah liat assistennya yang sepertinya udah taubat dengan profesinya sebagai tukang becak. *kasihan yah…. (bersambung)

Iklan

Perihal theghozz
Aku adalah Penduduk Akhirat yang sedang melancong kedunia, sehingga waktuku tidak banyak. Setiap detiknya ada kesempatan emas yang sangat berharga, bagiku waktu yang telah berlalu sangat jauh walaupun seditik dan masa yang akan datang begitu dekat menghampiri....

2 Responses to Antara “Ghoz” dan Zali” Part 1

  1. hahahaha… lucu kali bang smpe sakit perut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: