Syair di Ujung Khutbah


Frend, udah lama ya gak ngeposting….. pasti udah gak sabaran nunggu-nunggu kan??? Hehe….

Okelah, untuk mengobati rasa kangen anda, saya akan memposting kan renungan buat kita bersama, yah kali aja bisa menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tadi waktu jumatan, yang biasanya sambil ngantuk-ngantuk mendengarkan khutbah…. tapi hari ini agak antusias mendengarkan. Tapi kenapa sih sering saya perhatikan banyak (rata-rata) orang dengarin khutbah sambil ngantuk bahkan ada yang tidur dengan pulasnya. Hipotesis saya sih ada 3 kemungkinan hal itu terjadi, pertama karena emang orangnya udah seperti itu, susah mendengarkan kebaikan, jadi dianggapnya saja itu dongeng pengantar tidur atau emang lagi dalam kondisi perut laper atau emang kecapean kerja, jadilah khutbah jumat sebagai kesempatan “molor”. Kedua emang setan lagi kurang kerjaan dan jahil, jadi dia menggoda kita untuk mengantuk, liat aja ampir tiap ada ceramah agama mata langsung berubah derastis dari 100% ke 50% kebawah (alias ngantuk). Tapi gak sepenuhnya nyalahin setan, karena setan kan Cuma menggoda dan merayu, tetap saja kita yang kok mau-maunya terbujuk rayuan si setan. Ketiga emang pembicaranya (yang khutbah) tidak mempersiapkan materi secara baik. Sehingga ide yang disampaikannya tidak runtut dan terkesan lompat-lompat dan membuat bingung bagi orang yang mencerna khutbahnya, ujung-ujungnya jadi bosan dan kengantukan pun terjadi. Bahkan tak jarang pengkhutbahnya tidak menguasai materi dan tidak memiliki bacaan al-quran yang baik alias belepotan, ini juga bikin gak semangat. Bisa juga isi ceramahnya gak up to date alias ketinggalan zaman, gak membahas masalah-masalah kekinian, misal orang sedang hot-hotnya bencana alam ehh tapi materinya tentang keluarga (kan kurang pas). Bisa juga isinya itu-itu aja, gak ada yang baru bahkan ada yang buat khutbah dalam sebuah buku dan dijadikan kitab sakti untuk dibaca tiap jumatan, otomatis isinya juga gak banyak berubah.

Nah, kembali ke jalur yang benar…..

Diakhir khutbah si pemateri mengungkapkan sebuah syair yang berasal dari era “tabi’in yang terkenal yakni Hasan Al-basri (rahimullah). Sebuah syair yang menyentuh dalam banget di relung hati…. begini cuplikan syair tersebut…..

“Aku tau bahwa rezekiku gak bakal tertukar, karenanya hatiku menjadi tenang sehingga aku tidak khawatir sama sekali….

Aku tau bahwa amal-amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku sibukkan diriku untuk beramal….

Aku tau bahwa Tuhanku selalu melihatku, maka aku malu jika Dia melihatku sedang bermaksiat….

Aku tau bahwa akan bertemu dengan Tuhanku (kematian), maka aku mempersiapkan bekal untuk bertemu dengan-Nya….

Sungguh syair yang luar biasa yang keluar dari kebersihan hati, kejernihan pemikiran tentang makna hidup itu sendiri. Tak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan tentang harta, jabatan dan wanita (yang notabenenya adalah rezeki). Maka jika saja orang-orang yang memilih mengakhiri dirinya dengan bunuh diri adalah hal yang sangat “konyol”. Dia tak yakin akan “Tuhannya” yang telah mengatur segala kebutuhannya. Itu mangkanya, ganjaran bagi orang yang melakukan bunuh diri adalah dosa yang besar, takkan bisa masuk kedalam syurga, kerena sesungguhnya dirinya sudah tak percaya akan adanya “Tuhan Semesta Alam” Allah Azzawajalla.

Dalam hal amal juga seperti itu, menunggu-nunggu usia senja merupakan paradigma yang salah pada sebagian besar manusia. Kesalahannya terletak pada, apa iya tau sebatas mana umurnya? Apakah ada jaminan dia akan hidup 50 th yang akan datang, 20th, 10th, 1 th yang akan datang? Bahkan apa ada yang bisa memastikan bahwa dia tidak akan tetap bernafas esok hari??? Dan yang kesalahan lainnya adalah amal kita itu dihisap masing-masing, sendiri-sendiri. Apa yang kita kerjakan itu yang akan kita terima. Maka terjadilah kesalahan lainnya, yakni setelah meninggal dunia baru sanak keluarganya sibuk untuk mengirim doa atau mengirim surat yasin dengan mengundang karib kerabat, atau baru sibuk menshadaqahkan, atau menginfak-an atas nama fulan dan fulanah ini, sedangkan dulunya si mayit tersebut lupa shalat lima waktu, lupa berderma, lupa berhaji padahal mampu, lupa berpuasa padahal gak ada halangan untuk meninggalkannya. Trus emang gak boleh zal??? Boleh-boleh aja, karena masih “debatable” juga dikalangan ulama-ulama, bagi ekstrim kanan, bahkan menshalatkannya saja tidak mau bagi mayit yang jelas2 meninggalkan shalat fardhu dan banyak melakukan maksiat, tapi bagi yang agak ekstrim kiri (longgar) yah sekedar untuk menunaikan kewajiban sosial saja. Tentunya dengan dalil-dalilnya dan pemahaman masing-masing akan dalil-dalil tersebut. Tapi itu ibarat buat tambah-tambahan aja, kalau genteng bocor maka ditambal dengan stereofoam, atau cat pelapis anti bocor, tapi kalau emang gak ada gentengnya gimana??? Kan tetap aja ujan akan masuk ke dalam rumah, seperti itulah perumpamaannya (lebih kurang). Maka sibukkan diri kita berbuat baik dari sedini mungkin. Jangan menunggu-nunggu datangnya yang 5 (lima) sebelum yang 5 (lima). Apaan tuh ghoz??? Yakni

  1. Masa sehat sebelum sakit;
  2. Masa sempat sebelum masa sempit;
  3. Masa muda sebelum masa tua;
  4. Kaya sebelum miskin; dan
  5. Hidup sebelum mati.

Okelah fren, mari kita sama-sama memperbaiki diri, kita manusia gak ada yang sempurna, gak ada yang tak pernah berbuat salah (kecuali emang udah dijamin ama Allah SWT maksum yakni para Nabi dan Rasul). Maka, senantiasa memperbaiki dan menginstrospeksi diri adalah hal yang perlu kita lakukan.

Salam theghozz <<<end>>>>

Iklan

Perihal theghozz
Aku adalah Penduduk Akhirat yang sedang melancong kedunia, sehingga waktuku tidak banyak. Setiap detiknya ada kesempatan emas yang sangat berharga, bagiku waktu yang telah berlalu sangat jauh walaupun seditik dan masa yang akan datang begitu dekat menghampiri....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: