Bakal Kangen Suka Duka Saat Mudiks

kartun-mudik 

Dear my lovely Frenz, gak berasa ya udah di penghujung ramadhan neh, gimana neh puasanya? pada lantjar-lantjar adja khan??? target2 ramadhannya udah pada nyampe belum? atau jangan-jangan puasa cuma nahan laper ama haus doank ya? rugi banget lah, dibulan ini kan banyak bertabur pahala dan ampunan dari Allah SWT. yang pasti ntar diakhir ramadhan kita menjadi insan yang bertakwa kepadaNya, melaksanakan semua perintah dan menjauhi laranganNya, #Okesip (y)

Nah, moment yang berbeda ramadhan kali ini adalah bakalan tidak merasakan yang namanya mudiks lagi, dengan segala keribetan dan kehebohannya. karena sekitar trimester tahun ini udah resmi menjadi abdi negara di kota kelahiranku, Kota Binjai. kalau tahun lalu masih di kampung orang, sekarang sudah dikampung halaman, tapi masih tetap belum memiliki kampung mertua. hahaha.

Iya sob, mudik itu moment yang luar biasa banget. mulai dari nentukan kapan mulai cuti sampe mikirin harga tiket yang mendadak tak bersahabat dengan kantong. tapi itu semua terobatin kalau kita udah nyampe ketempat yang kita tuju, semua keribetan itu terbayar dengan senyum orang-orang yang menanti kita di rumah.

baiklah, mumpung tahun ini tidak mudik lagi, saya akan berbagi suka duka pengalaman mudik 9 tahun belakangan ini. woow, udah lumayan lama juga ya jadi anak perantauan. yap, 5 tahun menuntut ilmu di Kampus Unsri Indralaya OI Sumsel, dan 4 Tahun kerja di Bengkulu sebagai abdi masyarakat RS. Jomblo (plesetan RS. Jiwa) hehe.

1. Mudik dengan Bus Ekonomi Class itu cetar membahenol

tak pernah terbayangkan menempuh perjalanan selama lebih kurang 2 hari 1 malam mendaki gunung dan bukit, melewati lembah sungai yang mengalir indah ke muara. tapi itulah yang terjadi. kalau tidak salah kejadiaannya saat mudik masih semester 2. Dengan berharap ongkos yang lebih murah kalau nyetop di jalan, maklumlah anak kost kan mentalnya kalau gak gratisan ya murahan. hahaha. dan akhirnya daku menaiki bus durjana itu. awalnya, gak sadar sampe pas ngeliat keluar jendela kok ada angin yang sepoi-sepoi yak, trus ngeliat di depan bus tertulis EC yang berarti Ecomomy, langsung aye tepok jidad, sambil minjem jidad orang yang duduk dibangku sebelah, untungnya waktu itu dia lagi lelap tidur, jadi gak sadar waktu jidadnya ditepok2in. hahaha. yah, nasi udah jadi bubur, dan bubur udah dikasih ayam, jadilah bubur itu abis. karena sudah dimakan ayam. apa mau dikata, ongkos yang cuma pas2an itu sudah dikasih sama kondektur, dan gak bakal mungkin buat diminta lagi. ngeliat tampang kondekturnya aja udah kayak liat malaikat pencabut nyawa. penderitaan bus ini tak berhenti disana, namanya juga bus EC model firaun belum sunnat, udah pastilah mogok dan rusak menjadi langganan. bahkan sampe dimedan kita gak pernah ganti gigi lagi, dan kalau nurunin penumpang gak pake berenti lagi, jadi para penumpang2 yang mo turun dipasangin pelampung dan disuruh lompat dengan harapan mereka akan mengapung diaspal. yap, perseneling bus ini rusak, dan jika sampe mobil berhenti maka bakal susah untuk dihidupkan lagi. dan kita para penumpang jadi tenaga pendorongnya. naas bener dah pokoknya, sempat ngerasa kayak di filem yang pemerannya si van dame, yang waktu adegan busnya dibajak dan jika berhenti bakal meledak.

Tapi yang berkesan dan sempat membuat hati terenyuh saat mengetahui ada satu penumpang yang naik dari pelabuhan bakauheni lampung sampe daerah kisaran tanpa makan sedikitpun. itu jauh jok, paling gak 2 harian. sadisss. bukan karena dia puasa mutih untuk dapat ilmu kegantengan, dan disukai para wanita, tapi karena emang gak punya duit lagi yang dipake buat beli makanan. awal kisah, ketika aye lagi istirahat makan disebuah rumah makan didaerah kisaran – Sumut. teman sebangku aye menunjuk keseseorang yang lagi memandang nanar keluar, mendongakkan kepalanya kelangit. ntah apa yang sedang dipikirkannya, tapi raut wajahnya menampakkan kesedihan. lalu teman sebangku saya itu bilang, kalau anak itu sudah tidak makan sejak naik dari pelabuhan bakauheni. bahkan untuk membayar bus saja sebenarnya uangnya kurang, tapi karena kebaikan supir dan kondektur bus tersebut, makanya ia dibolehkan naik. emang sih aye sempat perhatiin dia kok gak turun2 dari bus kalau bus sedang istirahat buat makan, minum dan sholat. tapi karena aye masih normal, jadi perhatian aye itu sebatas manusia normal aja kok. kan geli kalau meratiin cowok terus dalam waktu yang lama, takutnya iman goyah dan terjadilah tinja buta. eh, cinta maksudnya. haha.

rasa iba pun muncul dalam diri, aye gak bisa ngebayangin kl aye lah orang yang seperti itu. lalu, aye ajak turun dan makan bersama, awalnya ia menolak, namun setelah aye bujuk akhirnya dia mau juga. lalu dia pun menceritakan kenapa hal itu bisa terjadi padanya.

Aku mo sekolah dipesantren bang di daerah parung bogor. disana ada sekolah pesantren gratis, aku merantau sendiri bang, ada syarat yang harus aku bawa agar bisa sekolah disana, makanya aku mau pulang kampung buat ngambil syarat-syaratnya, tapi aku kehabisan uang bang. begitulah lebih kurang kisah yang disampaikannya membuat terenyuh. dari logatnya aku sudah menduga dia berasal dari daerah mandailing sana, tepatnya Padang Sidempuan katanya. tanpa butuh waktu kami jadi akrab. dia mencerita segala petualangannya, bagaimana semangatnya buat bersekolah dan cita-citanya yang tinggi. 

sampai dimedan, suasana sudah larut bahkan menjelang subuh tepatnya jam 3 pagi. dia pun kembali kebingunan karena bus ke kampungnya baru berangkat disorenya. yang uniknya dia mengatakan, kalau ongkos bus ke kampungnya itu nanti bisa dibayar setelah sampai ditujuannya. biasanya kan kalau naik bus kita harus membayar duluan untuk membeli tiketnya. lalu karena masih lama, aye ngajak dia tuk istirahat dirumah sambil menunggu sore, nanti diantarkan lagi ke terminal. saat sorenyanya aye ngantarin ke terminal dan bus yang dituju sudah menunggu, sampailah kami pada moment-moment perpisahan, ntah bakal ketemu lagi atau tidak, setidaknya itu pertemuan yang luar biasa. sembari memberikan uang untuk diperjalannya, kami pun terpisahkan jua oleh waktu dan keadaan. Cieilehhh, hohoho.

ah, aku lupa namanya, hal terlemah dalam otakku adalah menghafal nama2, baru kenalan pun kadang aku bisa secepat kilat lupa namanya. tapi siapapun dia, semoga sekarang dia sudah sukses menjadi santri bahkan menjadi ustadz yang memberikan manfaat ilmunya bagi semua orang. Aamiin o:)

Bersambungggg…….

Layangan Angan

download

ku rakit teraju layangan anganku

hendak terbang setingginya impiku

membiarkannya jauh menggapai birunya langit

menari-nari diantara sang awan kelabu

lupaku tuk menariknya, sementara benang asa ku telah pada batasnya

celakanya, tak sempatku ikat erat iya dalam dekapan gulungan tangan

terlepas, tanpa mampu ku kejar

hilang tanpa bekas

sedihku membayangkan, namun apalah guna disesalkan

ku harap dia terjatuh di lembah kebahagian

theghozz 🙂